DEMO MAHASISWA DI MAKASSAR

Dewasa ini pelajar di Indonesia tidak hanya lagi mengejar pelajaran dan ilmu saja. Tetapi mereka pun turut ikut di dalam politik yang sebenarnya bukan di bidang mereka. Seperti yang saya kutip di okezone.com berikut:

MAKASSAR – Aksi demonstrasi memperingati satu tahun pemerintahan SBY-Boediono mulai memanas. Sejumlah mahasiswa di Makassar pun mulai bertindak anarkis.
  Berdasarkan pantauan di lapangan, ratusan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin menggelar aksi di depan kampusnya, Jalan Perintis Kemerdekaan. Dalam aksi itu, mereka menutup akses jalan raya dengan barisan massa dan kayu.
  Selain itu, para mahasiswa juga memalangkan sebuah mobil yang sebelumnya mereka sandera dari pengemudi, sehingga lalu lintas pun semakin lumpuh. Bahkan, mereka juga menghancurkan lampu merah yang terpampang di simpang jalan dekan kampus. Para mahasiswa terus berorasi menuntut Presiden SBY mundur dari jabatannya.
  Kendati demikian, tidak nampak aparat kepolisian yang berseragam lengkap turut mengawal aksi. Para mahasiswa hanya diawasi oleh segelintir aparan yang berpakaian preman.
  Selain di Universitas Hasanuddin, aksi juga berlangsung di sejumlah titik. Di antaranya Universitas Muslim Indonesia, Universitas Negeri Makassar, Universitas Islam Negeri Alauddin, dan di flyover Makassar.
  Sebagaimana diketahui, bentrokan antara mahasiswa dan petugas keamanan kembali pecah pada Selasa kemarin. Sehari sebelumnya bentrokan terjadi di Jalan Urip Sumoharjo, kemarin di depan Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM).
  Sekitar dua jam, ratusan mahasiswa UNM saling lempar batu melawan personel Samapta dan Brimob Polda Sulselbar di Jalan Raya Pendidikan. Sedikitnya lima polisi menjadi korban luka akibat lemparan batu dari mahasiswa.

Memang sebagai warga negara Indonesia yag baik kita harus turut memperhatikan tentang kinerja dari pemerintah kita. Tetapi sebagai pelajar yang bisa di katakan senior, apakah hal tersebut layak dilakukan orang yang berpendidikan. Sebagai orang yang menyandang predikat pelajar, banyak cara untuk menyalurkan aspirasi kita ke pemerintah seperti ormas-ormas yang banyak berkembang. Lihatlah akibat dari perbuatan para mahasiswa, sekarang ini anak-anak smp pun ikut di dalam tawuran baik itu antar sekolah atau antar golongan. Bayangkan bila adik atau kakak mereka yang ikut di dalam tawuran itu lalu pulang didalam kantung mayat, apakah yang para mahasiswa itu rasakan? Marah, benci, tapi pada siapa? Tentunya pada diri sendirilah jawabannya karena hal tersebut terjadi akibat pelajaran-pelajaran tawuran yang di berikan seorang kakak kepada adiknya lewat aksi-aksi yang dianggap mahasiswa sebagai pahlawan. Jika mereka ingin dianggap menjadi pahlawan seperti peristiwa trisakti pada zaman pemerintahan Soeharto, pahamilah dulu kesalahan yang di buat pemerintah serta pahamilah dulu tuntutan mereka. Karena kebanyakan mahasiswa yang tawuran tidak mengerti duduk perkara sebenarnya, mereka hanya memiliki darah muda yang selalu ingin menunjukan diri. Ini terbukti dari pencoretan mobil-mobil dinas pemerintah yang bahkan para karyawan pemerintah ini juga tidak mengerti apa-apa, karena merekapun hanya mencari nafkah dari bekerja kepada pemerintah.
Ada dosenku yang pernah memberikan lelucon yang menyangkut keberanian pemuda Indonesia. Dia berkata “Jika suatu saat nanti Indonesia membutuhkan pasukan, Indonesia tidak perlu mengadakan wajib militer karena di Indonesia banyak pemuda-pemuda yang berani mati, hal ini terbukti dari banyaknya tawuran yang telah di pupuk dari tingkat smp”.

0 komentar:

Poskan Komentar