PENYELESAIAN KONFLIK HORIZONTAL


Di dalam sebuah organisasi ataupun perusahaan terdapan tingkatan-tingkatan kepemimpinan. Mulai dari tingkat yang paling atas seperti direktur, tingkat menengah seperti manajer, juga tingkat bawah seperti buruh ataupun karyawan. Biasanya masyarakat luar hanya mengetahui konflik yang terjadi antara pihak pimpinan dengan pihak bawahan. Padahal konflik lebih banyak terjadi di antara pihak-pihak yang sederajat atau yang sama tingkatannya. Konflik antara pihak sederajat tersebut biasanya disebut sbagai konflik horizontal.
Konflik horizontal di dalam sebuah perusahaan dapat terjadi hampir setiap hari. Biasanya yang terlibat dalam konflik ini adalah pihak-pihak yang saling berhubungan satu dengan lainya. Konflik tersebuat biasanya terjadi akibat perbedaan kebijakan ataupun keputusan-keputusan yang di ambil oleh dua pihak ataupun lebih. Masing-masing pihak akan menganggap bahwa apa yang di prioritaskan olehnya akan lebih penting dari pada yang di prioritaskan pihak lainnya.
Misalnya suatu perusahaan akan mengadakan belanja tahunan dalam rangka memperlancar proses-proses yang akan terlaksana di dalam perusahaan serta mensejahterakan karyawan. Sedangkan di pihak keuangan perusahaan, mereka lebih menghendaki agar pengeluaran lebih ditekan agar dana yang masih ada dapat dipergunakan untuk keperluan lainnya di waktu yang lain. Pada saat pihak perlengkapan dan peralatan kantor ingin membeli barang-barang yang telah mereka rencanakan, pihak keuangan pun menolak mengeluarkan dana. Di pihak peralatan dan perlengkapan, mereka berfikir bahwa peralatan dan perlengkapan yang ada sudah tidak layak, sedangkan di pihak keuangan mereka berfikir bahwa peralatan yang masih ada walaupun sudah tidak terlalu layak masih dapat di pergunakan.

Masalah-masalah seperti itulah yang harus dicari jalan keluarnya, karena tidak ada pihak manapun yang sebenarnya lebih benar atau salah. Masing masing pihak tersebut hanya mengerjakan apa tugas telah di berikan kepada mereka. Disinilah dibutuhkan pihak penengah atau yang biasanya disebut sebagai pihak ketiga. Pihak-pihak yang terkait di pertemukan di dalam suatu rapat untuk menyelesaikan masalh0masalah tersebut. Misalnya dengan membeli beberapa barang-barang yang telah diprioritaskan yaitu barang-barang yang benar-benar prioritas. Dari pihak keuangan pun harus menambah lagi dana dari yang telah direncanakan, untuk menunjang dari pembelian barang. Karena walau bagaimanapun barang barang yang dibeli adalah untuk kepentingan semua pihak. Sedangkan barang-barang yang telah direncanakan tetapi tidak jadi prioritas utama, dapat dibeli dikemudian hari ketika terdapat kelebihan dana.
Demikianlah masalah yang telah kita bahas, semoga saja dapat berguna bagi yang membacanya. Semoga dapat berguna dalam konflik-konflik di dalam organisasi.

0 komentar:

Poskan Komentar